Langsung ke konten utama

Neesha Part 3

Kegiatan menulisku sudah menjadi rutinitas di setiap malam. Dengan ditemani suara musik dari computer, kecepatan tangan dalam menekan tuts keyboard semakin tak terbendung dengan banyak cerita yang ingin kutuliskan. Menulis memang kegiatan yang mengasyikkan, aku lupa segalanya jika sudah focus pada monitor di depanku. Aku tak sadar kalau mama sudah ada di sampingku. Aku terkejut dan menghentikan kegiatanku saat mama membelai rambutku.
“Nesh, kayaknya kita sudah lama tidak bicara seperti ini, sejak kamu kuliah di Kota Kembang mama merasa kesepian” , kata mama memulai pembicaraan malam ini.
“Iya ma, aku juga rindu curhat sama mama. Setelah aku kembali pulang, mama malah sibuk dengan urusan mama. Apalagi setelah aku telah menjadi guru, akupun mulai sibuk dengan pekerjaanku. Aku rindu ma, rindu cerita dan nasehat mama”, aku memeluk mama yang masih berdiri di depanku.
Mama berjalan ke arah kasurku, dia duduk di kasur dan mengambil sebuah batal dan menarunya di pangkuannya. Mama lalu menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.
“Nesh, kamu duduk di sini di samping mama”
“Iya ma”, jawabku menghampiri mama
“Mama mau ajak kamu bicara sebagai perempuan dewasa, kamu bisa kan menganggap mama sebagai orang tua sekaligus teman curhat kamu?” mama melanjutkan
“Iya”
“Begini Nesh, umur kamu sudah 22 tahun lebih sekarang, sebentar lagi 23 tahun. Dulu saat mama seumuran kamu, mama sudah di sudah di suruh sama Nenek kamu untuk berkeluarga. Kamu tahu kan kalau semua wanita di keluarga kita rata-rata menikah di umur 23 tahun. Apakah kamu sudah punya pilihan?” Mama bertanya padaku dengan mimic yang sangat serius.
“Maksud mama, aku… menikah??” Aku sedikit kaget dengan arah pembicaraan ini. Memang rata-rata semua wanita di keluargaku menikah di usia 23 tahun. Tapi apakah aku juga harus begitu?
“Mama tidak memaksa kamu menikah di usia 23, tapi setidaknya kamu seharusnya sudah punya pikiran untuk membina rumah tangga”, lanjut mama
Aku terdiam
“Jadi begini, kalau kamu mau. Kemarin beberapa teman mama yang punya anak laki-laki menanyakan kesediaan kamu untuk anaknya. Tapi mama tidak bisa memutuskan begitu saja, mama ingin kamu yang memutuskan segalanya. Kamu yang akan menjalaninya, maka kamu yang harus memutuskan. Bagaimana?”
Aku masih bingung, tak tahu harus menjawab apa. Mama membelai rambutku lagi, ada perasaan tenang saat itu di hatiku. Mataku berkaca, perlahan air mataku meleleh dan aku berkata dengan sedikit terbata, “Ma, aku akan melakukan apa yang bisa membuat mama bahagia. Jika itu yang terbaik untuk mama, Akan kulakukan asalkan aku mendapat restu dari mama akan semua yang kulakukan”
Mama memelukku, entah sejak kapan mama menangis karena tetesan air matanya begitu terasa di pundakku. “Nesh, Mama tidak memaksa kamu harus memilih calon yang mama pertemukan denganmu. Itu hak kamu untuk menentukannya, mama hanya menyarankan. Jadi kamu mau mama pertemukan dengan anak teman mama itu?”, mama mempertanyakan keputusanku.
“Iya, aku akan melakukan apapun untuk mama. Tapi jika nanti aku tidak tertarik, aku boleh untuk tidak menerimanya kan ma?”
“Iya sayang, mama takkan memaksa kamu. Pilihan itu ada pada dirimu”, mama meyakinkanku. “Terima kasih ya sayang, kamu mengerti apa yang mama mau. Kita akan bertemu dengan teman mama beberapa hari lagi. Sekali lagi, untuk urusan kamu menerima atau tidaknya itu nanti pilihan kamu, mama takkan ikut campur soal itu. Sekarang, kamu tenangkan dirimu. Mama keluar dulu ya! Mama saying kamu Nesh”, Mama menciumku sebelum dia menghilang di balik pintu kamar yang dia tutup saat keluar.
Mama meninggalkan dengan kebingungan yang membubung. Sebenarnya memang sudah saatnya aku memikirkan untuk mejalani perintah agama yang satu itu. Tapi entah kenapa setelah menjadi seorang guru, keasyikan di sekolah membuatku mulai lupa dengan kondratku sebagai seorang wanita yang membutuhkan seorang pendamping di sisiku. Seorang imam yang akan menuntunkan dalam menjalani sisa umurku nanti. Seorang suami yang akan kulayani hingga akhir hayatku. Aku hanya bisa menerima tawaran mama yang akan mempertemukanku dengan anak dari salah seorang temannya, tak ada pilihan lain yang lebih baik. Karena aku yakin apa yang mama pilih adalah pilihan yang terbaik dari yang ada di benakku saat ini.

0000000

Akhirnya waktu pertemuan yang telah direncanakan mama dengan temannya tiba. Hari ini temannya mama akan datang ke rumah beserta keluarganya. Aku lupa menanyakan siapa teman mama yang akan datang nanti. Aku di suruh mama mempersiapkan segalanya. Mama menyuruhku untuk menyiapkan seluruh hidangan. Membuat kue dan seluruh makanan yang akan di sajikan dilimpahkan padaku untuk mempersiapkannya. Aku tak begitu mengerti apa maksudnya.

Setelah semua makanan kuhidangkan, mama menyuruhku untuk mempersiapkan diriku. Mama menyuruhku untuk sedikit berdandan dan mengenakan busana terbaikku dilengkapi dengan jilbab yang tentunya juga yang terbaik. Aku menurut saja dengan apa yang diinginkan Mama. Aku tak ingin mama kecewa, walau sebenarnya aku maunya tampil seadanya. Tanpa polesan dan terlihat lebih alami, sehingga tamu yang akan datang nanti bisa melihat aku yang sebenarnya.

Tak lama memang aku berdandan, tiba-tiba seisi rumah terkejut oleh bunyi bel. Dimas lalu berlari ke depan untuk mencoba melihat siapa yang datang. Lalu dia kembali ke ruang tengah sambil berteriak dia memberitahukan siapa yang datang.
“Itu Mbak Tina”, serunya..
“Ya sudah kamu suruh masuk saja”, Papa menugaskan Dimas untuk mempersilahkan Tina Masuk
“OK, Bosss”, Jawab Dimas mengikuti tren anak muda sekarang yang saling memanggil bos pada orang yang dianggap lebih berpengaruh.

Tina adalah sepupuku dari kakak Mama. Umurnya 2 tahun diatasku , sudah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Iya yang masih imut dan lucu. Tina teman curhat yang baik. Padanyalah kuserahkan segala keresahanku tercurah. Namun tentang kejadian hari ini aku belum sempat mebicarakanya dengan dia. Tapi waktu yang tepat juga dia datang sekarang, karena dia bisa membantuku nanti untuk memberikan keputusan. Aku yakin dia tahu yang terbaik untukku.

Dimas masuk kembali kembali masuk ke ruang tengah diikuti Tina yang menggendong Iya. Tanpa basa basi, Tina langsung mempertanyakan keadaan rumah yang sangat rapih dan dipenuhi makanan yang lezat.
“Hei..hei ada apa ini? Ada pestakah? Ho.. jadi saya sudah tidak dianggap keluarga lagi nih tante? Ada pesta kok nggak ngajak-ngajak?” Sindir Tina kepada Mama.
“Tak ada apa-apa kok Tin, sebentar lagi akan ada tamu yang datang. Ini semua untuk tamu menyambut tamu itu”, jawab mama sambil mencoba mengambil Iya dari gendongan Tina
“Hei… siapakah gerangan tamu agung yang akan datang? Setahu saya selama ini tak ada tamu yang diperlakukan istimewa di rumah ini. Hmm…. Pasti ada sesuatu.. Nesh.. siapa tamunya?”. Tina masih mecoba mencari tahu, dia melepaskan anaknya dari gendongannya dan memberikannya kepada mama. Lalu dia berjalan ke arahku yang duduk di dekat Papa.

Aku hanya terdiam, aku melirik ke arah Papa yang dari tadi tak banyak bicara. Papa memang terlalu irit untuk bicara masalah seperti ini. Kelihatan tak perduli dengan yang terjadi, tapi aku yakin dia sebenarnya sangat peduli padaku.
“Nesh, jadi siapa tamunya?” Tak kusangka Tina sudah duduk di sebelahku sambil merangkul pundakku.
“Mbak, aku juga ga tahu siapa tamunya. Ini tamunya mama kok”, jawabku sambil melepaskan rangkulannya dari pundakku.
“Hemm… aku mesti berlama-lama disini nampaknya, agar aku tidak penasaran siapa tamu yang akan datang. Tante, aku boleh ikut menyambut tamunya kan? Itu si Iya juga sudah tertidur di gendongan Tante..” Tina kelihatan memohon kepada Mama.
“Ya sudah, kamu taruh Iya di kamar Nesha dulu”, jawab mama sambil menatap kea rah Tina.
“Sip..”
Tina berjalan kea rah mama dan menggendong anaknya yang sudah tetidur di pelukan mama. Tina lalu menuju kamarku yang berada diantara kamar Mama dan kamarnya Dimas. Sebenarnya aku ingin menyusul Tina ke kamar, namun kuurungkan niatku karena saat aku akan berdiri terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bel berbunyi kembali, kali ini Mama yang sedikit berlari menuju pintu.

Benar apa yang kutebak, tamu  yang datang kali ini adalah teman Mama lengkap satu keluarga. Ada seorang Bapak yang tingginya sekitar 175, berkumis dan sedikit buncit. Seorang Ibu dengan pakaian kebaya yang tampak anggun walau tak memakai jilbab. Dandanan si Ibu memang agak sedikit menor untuk wanita seusianya, tapi entah charisma darimana yang mebuat si ibu terlihat begitu cantik dan anggun. Seorang pemuda berjalan dibelakang bapak dan ibu yang tadi, sekilas kulihat dia begitu tampan. Sangat tampan memang, namun dia terlihat sangat tidak suka saat masuk ke dalam rumah. Aku tak merasakan apapun saat melihatnya, tak ada desiran atau perasaan mengagumi sekalipun.

Mama mempersilahkan tamunya duduk di sofa ruang tamu. Setelah kedua tamu duduk, mama menyuruhku untuk mengambilkan minuman untuk tamunya. Tanpa banyak bicara aku langsung melaksanakan peintah mama. Setelah kuhidangkan minumannya mama menyuruhku duduk disampingnya. Tina baru keluar dari kamarku, tanpa basa basi langsung ikut duduk di dekatku. Tampaknya dia mulai mengerti apa yang terjadi, sekilas dia melirikku dan menyunggingkan senyuman usilnya.

Segalanya terjadi begitu cepat, aku tak peduli dengan apa yang di bicarakan oleh semua orang. Aku ingin pertemuan ini cepat berakhir, kulirik pemuda yang akan diharapkan Mama menjadi jodohku. Dia terlihat tidak peduli dengan dunia sekitar. Dia memainkan ponselnya, dia tidak tertawa ataupun tersenyum saat kedua orangtuanya  mengejek dirinya. Aku jadi heran, kenapa Mama mau mejodohkanku dengan pemuda ini?

Akhirnya selesai sudah pertemuan yang berlangsung. Keluarga tadi sudah hilang dari pandanganku. Mama tersenyum melihatku, kemudian menarik Papa ke dalam kamar. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan saat berjalan menuju kamar. Tina melihat ke arahku, dia mengajakku duduk di teras depan. Mimik mukanya sangat serius. Aku tak mengerti kenapa dia bisa berubah lebih serius, padahal dia tidak pernah seserius ini sebelumnya.
“Nees, pria itu yang mau dijodohkan denganmu?” Tina memulai percakapan
“Aku tidak tahu”, jawabku polos
“Kamu masih bisa bercanda, ini menyangkut masa depanmu Nees. Kalau aku boleh menyarankan kepadamu, lebih baik kamu meolak pria itu”, Tina memberikan pendapatnya.
Ada yang salah dengan pria itu?” tanyaku
“Dia itu terlalu tampan, biasanya pria tampan itu suka mempermainkan wanita. Kamu lihat gerak-gariknya tadi, dia sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan ini. Aku merasakan itu. Dia tidak pantas untukmu.” Lanjutnya menegaskan
“Tapi, aku bisa berbuat apa? Mama sepertinya menyukainya”, aku mencoba beralasan.
“Neesh, pernikahan itu tidak untuk Mamamu, tapi untuk kebahagiaan kamu nantinya. Aku yakin kalau nanti kamu bicarakan dengan baik-baik, Tante pasti mengerti”, Tina menerangkan lagi.
“Aku bingung”
“AKu tahu, lebih baik kamu pikirkan dulu mana yang terbaik untukmu. Aku mendukungmu”, Tina meninggalkanku, dia masuk ke dalam rumah meninggalkan yang masih bingung dengan apa yang terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Dokter di Hermina Bekasi

Nah,  kali ini sempet2in mo nulis pengalaman semalam ke hermina.  Meski udah lama banget pengen tulisin satu2 dokter yg pernah ditemui di hermina.  So far,  hampir sebagian besar saya cocok sm dokter2 yang ada di RS ini.  Meskipun Hermina sekarang udah gak kayak RS dulu yang rasanya lebih nyaman dr segi fasilitas.  Karena sejak berubah jd RS umum,  pelayanannya sepertinya sedikit menurun. Namun,  saya gak bahas soal itu.  Tapi bahas soal dokter aja deh.. Hehe.. Kalo soal dokter bagus nggak bagus sih relatif,  karena dokter itu cocok2an menurut saya.  Gak harus dokter yang bayarannya mahal itu selalu bagus,  n sebaliknya.  Yg penting kita cocok n nyaman sama dokternya,  udah gitu aja, pasti berikut2nya bakalan balik lagi sm dokter itu.  Semoga setelah dibikin review beberapa dokter berikut,  bisa membuat saya tetap mengingat jasa2 mereka...
Pertama,  dokter marly susanti. dokter kandungan. Dokter yang lewat dia saya akhirnya hamil n alhamdulillah lancar sampe lahiran. Keguguran 2x n …

Backpacker Pulau Pari

Hamil Qeena sekitar 5 bulan diajak jalan lagi sama suami. Kali ini yang deket aja sebenernya tp mesti nyebrangin lautan dulu. Yaitu ke pulau Pari di Kepulauan Seribu. Berangkat satu alumni games COC jaman blm ada kakak dulu. Kita jalan sebelum subuh dan subuh di daerah muara angke kalo ga salah. Nuansanya masih nuansa ngantuk tp ternyata udah rameee banget yang ada disana.. Ya, rata2 para wisatawan lokal yang mau berkelana ke kepulauan seribu. Ada banyak pulau yang bisa dinikamati di sana. Tapi kita memilih ke pulau pari. Pulau yang sudah sempat di survey oleh salah seorang rekan suami. 
Habis sholat subuh, para suami mengantri buat dapetin tiket boat dr dinas perhubungan, denger kabar sih kapalnya lebih nyaman mirip speed boat (ntah bener ntah engga, bunda juga ga liat, mirip kapal pesiar gitu katanya, wakaka). Harga tiketnya sedikit lebih mahal tapi ga mahal2 banget juga. Ga sampe 50rb. Trus ternyta utk yang bisa naik ke kapal iu dibatesin dong, cm bs sktr 5orang per pulau. Jadi it…

Hikmah dari sebuah Bunga (cara menumbuhkan kembali bunga yang mati)

Setiap cewe pasti pengen rumahnya tampak indah dengan bunga-bunga. Begitu juga saya. Alhamdulillah akhirnya bisa nyicil rumah. Salut tak terhingga sama suami. Yang jelas kalo keinginan dan usaha kita kuat, insyaAllah pasti ada jalan :). 
Sampelah akhirnya pindah ke rumah baru. Sekitar bulan juli 2012. Inget banget saat itu lagi puasa. Dan  harus bolak balik rumah kontrakan dan rumah baru tuk mindahin barang-barang. Gak kebayang lelahnya. Tapi, alhamdulillah terbayarkan dengan leganya bisa punya rumah dan langsung tidur disana malam itu setelah pasang AC. Jadi inget, saya harus makan buat ama suami, satu bungkus nasi buat berdua. Karena ternyata beli nasinya kurang. Tukang AC nya ada 2 orang ternyata. Ditambah sama adik ipar, akhirnya kurang satu. Jadi deh, makan nasi berdua suami. So sweet banget, tapi masih laper.. Haha...
Tinggal dirumah baru pastinya harus benah-benah n rapi-rapi dulu. Setelah selesai beres-beres, ngerasa ada yang kurang. Yaitu tanaman. Untuk mempercantik dan memperi…